Duo Datuak Taklukkan Pesona Bunaken, Rajut Persaudaraan di Bibir Laut Sulawesi

Duo Datuak Taklukkan Pesona Bunaken, Rajut Persaudaraan di Bibir Laut Sulawesi

MANADO — Birunya laut Sulawesi berpadu dengan semilir angin tropis menjadi saksi hangatnya kebersamaan dua tokoh perantau Minangkabau saat menikmati pesona Taman Nasional Bunaken, Minggu (10/5/2026).

Sekretaris Jenderal IKASMIN-SS, Isnaini Al Ihsan, S.H., Dt. Mangkuto Alam bersama Dewan Komite Etik & Pengawasan IKASMIN-SS, H. Ferry Taslim, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo menghabiskan waktu dalam suasana penuh keakraban di kawasan wisata bahari yang dikenal sebagai salah satu surga laut dunia tersebut.

Di atas hamparan laut yang berkilau diterpa cahaya matahari, keduanya tampak menikmati perjalanan dengan nuansa santai namun sarat makna. Percakapan demi percakapan mengalir hangat, mulai dari nilai persaudaraan perantau Minangkabau, semangat pengabdian, hingga pentingnya menjaga marwah adat dan silaturahmi di tanah rantau.

Keindahan Taman Nasional Bunaken seakan menjadi ruang refleksi bagi dua penghulu adat Minangkabau tersebut. Laut yang tenang, gugusan pulau yang memanjakan pandangan, serta panorama alam Sulawesi Utara menghadirkan pengalaman yang tidak sekadar wisata, melainkan perjalanan batin tentang persaudaraan dan rasa syukur atas keindahan negeri.

Bagi Dt. Mangkuto Alam, kunjungan ke Bunaken menghadirkan kesan mendalam. Beliau menilai Sulawesi Utara memiliki pesona alam yang berkelas dunia dan menjadi wajah Indonesia yang patut dibanggakan.

“Bunaken bukan hanya tentang laut dan panorama alam. Ada keagungan ciptaan Tuhan yang menghadirkan rasa syukur dan kekaguman dalam setiap pandangan,” ujar Isnaini Al Ihsan, S.H., Dt. Mangkuto Alam.

Sementara itu, Ferrytass., Dt. Toembidjo yang saat ini mengemban amanah sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara menyebut Bunaken sebagai simbol kekayaan Indonesia yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.

“Keindahan Bunaken adalah warisan alam yang tidak ternilai. Menjaganya bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab moral seluruh anak bangsa,” ungkap Ferrytass., Dt. Toembidjo.

Di tengah debur ombak dan langit biru yang membentang luas, kebersamaan Duo Datuak Minangkabau itu menjadi potret harmonis tentang persaudaraan, budaya, dan pengabdian. Sebuah perjalanan yang bukan sekadar menikmati keindahan alam, melainkan juga merawat nilai-nilai kebersamaan yang tetap hidup di hati para perantau Minangkabau.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *