MAKASSAR — Kidung suci ayat-ayat semesta mengalun syahdu membelah cakrawala malam Kota Daeng. Pada malam yang dinaungi temaram yang megah, Senin (24/8/2026), Lapangan Karebosi menjelma menjadi episentrum spiritual tatkala perhelatan agung Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) VIII KORPRI Tingkat Nasional 2026 resmi mengibarkan panji keagungannya.
Di bawah pendaran cahaya yang benderang, Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menorehkan sabda peresmian, menandai mulainya simfoni adiluhung bagi ribuan abdi negara dari seluruh penjuru Nusantara.

Malam inaugurasi tersebut memancarkan aura kebesaran dengan kehadiran para punggawa adinegara. Turut mengukir jejak di mimbar kehormatan adalah Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) merangkap Ketua Umum Dewan Pengurus KORPRI Nasional, Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh; Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman; Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin; hingga jajaran pimpinan daerah seperti Wakil Bupati Sidrap, Nurkanaah. Ribuan kafilah yang membawa panji dari 38 provinsi serta puluhan kementerian dan lembaga turut melebur dalam gempita ukhuwah yang merajut satu asa: “ASN Berakhlak Mulia, Indonesia Tangguh.”
Namun, di balik ingar-bingar panggung utama dan lantunan kalam Ilahi, terukir sebuah fragmen puitis tentang persaudaraan yang melintasi batas samudra. Di tengah samudra manusia, pusaran takdir mempertemukan dua insan dari tanah Bundo Kanduang. Yoanda Weafandi, putra terbaik Minangkabau yang tengah menunaikan darmabakti keprotokolan mendampingi Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Muhammad Syarifuddin, S.H., M.H., bersua dengan Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah.

Pertemuan itu laksana oase di tengah hiruk-pikuk seremoni. Tersirat kebanggaan yang membuncah tatkala Gubernur Mahyeldi menepuk perlahan pundak Yoanda. Sebuah gestur niraksara yang melambangkan apresiasi paripurna, diiringi jabat tangan yang menggenggam erat marwah kebangsaan dan kekerabatan. Dalam interaksi yang sarat akan nilai persaudaraan tersebut, Yoanda, yang juga merajut karsa sebagai penggiat di Ikatan Saudagar Minangkabau Sapayuang Sulawesi Selatan (IKASMIN-SS) organisasi sayap pergerakan dari IKM Sapayuang menyampaikan sebuah warta membahagiakan. Kepada sang Gubernur, ia menuturkan bahwasanya eksistensi dan denyut nadi “Urang Awak” di Makassar terhimpun kukuh dalam pelukan hangat Keluarga Besar Ikatan Keluarga Minangkabau Sapayuang Sulawesi Selatan (IKM Sapayuang).

Terpikat oleh gita persaudaraan dari tanah rantau tersebut, Gubernur Mahyeldi pun melontarkan titah persahabatan untuk menyongsong arunika pada keesokan harinya, mengajak Yoanda untuk bercengkerama dalam balutan jamuan sarapan pagi.
Akan tetapi, layaknya ksatria Minang yang memegang teguh pituah dan laku adab warisan leluhur, Yoanda tak lantas jemawa. Dengan keluhuran budi, ia segera meneruskan amanat tersebut kepada para tetua dan pengurus IKM Sapayuang. Langkah luhur ini menjadi wujud nyata dari filosofi raso jo pareso, memastikan bahwa perjumpaan esok hari di bawah mentari pagi Kota Makassar tak sekadar menjadi perjumpaan dwipihak, melainkan menjelma menjadi majelis silaturahmi mahawangsa bagi seluruh kerabat “Urang Awak” di Bumi Anging Mammiri.
Peristiwa manis di sela-sela gegap gempita MTQ VIII KORPRI yang akan berlangsung hingga 30 Agustus 2026 di Makassar dan Pangkep ini, menjadi testimoni paripurna bahwa ajang nasional tak sekadar menjadi wahana adu lantun ayat suci. Lebih dari itu, ia adalah wadah purna untuk merajut kembali simpul-simpul diaspora Nusantara, di mana marwah budaya dan adab ketimuran tetap berpijar, berpadu dalam sinergi para abdi negara.

