Kabarantau — Sebuah gagasan yang lahir dari kepedulian, ketika dirawat dengan konsistensi dan dikelola melalui organisasi yang solid, dapat tumbuh menjadi gerakan yang melampaui batas-batas komunitas. Itulah yang kini terlihat dari Jum’at Berkah “Fastabiqul Khairat” IKASMIN-SS, salah satu program kerja resmi Ikatan Saudagar Minangkabau Sapayuang Sulawesi Selatan (IKASMIN-SS) yang telah berjalan hampir dua tahun.

Di balik keberlanjutan program tersebut terdapat sosok Dr. H. Ferry Taslim, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, yang tidak hanya dikenal dalam lingkungan keluarga besar Minangkabau, tetapi juga menjadi figur penting dalam perjalanan IKASMIN-SS. Saat ini, Dt. Toembidjo dipercaya sebagai Plt. Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, sekaligus mengemban amanah sebagai Dewan Komite Etik & Pengawasan IKASMIN-SS.
Yang menarik, Jum’at Berkah “Fastabiqul Khairat” merupakan gagasan yang diinisiasi oleh Dt. Toembidjo dan kemudian ditumbuhkan menjadi program kerja resmi IKASMIN-SS.
Gagasan tersebut pada mulanya sederhana: menghadirkan kepedulian dalam bentuk nyata melalui makanan yang dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Namun dalam perjalanannya, gagasan sederhana itu berkembang menjadi sebuah ekosistem kebaikan yang melibatkan saudagar, pelaku usaha, anggota organisasi, donatur, pemerintah, sektor swasta, komunitas, hingga jaringan kolega keluarga besar Adhyaksa dari berbagai wilayah Indonesia.

Dari Aceh hingga Papua, dukungan dan partisipasi datang dari berbagai simpul jejaring yang memiliki keterhubungan dengan Dt. Toembidjo. Energi kolaboratif tersebut kemudian menjadi salah satu kekuatan yang membuat Jum’at Berkah “Fastabiqul Khairat” IKASMIN-SS tetap hidup, bergerak dan berkembang.
Bagi IKASMIN-SS, Jum’at Berkah “Fastabiqul Khairat” bukan kegiatan insidental yang muncul hanya karena momentum. Program tersebut ditempatkan sebagai program kerja resmi organisasi, dengan pengelolaan yang melibatkan struktur dan perangkat organisasi.
Inisiatif Dt. Toembidjo kemudian menemukan ruang organisasional melalui IKASMIN-SS, organisasi sayap Ikatan Keluarga Minangkabau Sapayuang Sulawesi Selatan (IKM Sapayuang) yang berorientasi pada saudagar dan pelaku usaha.
IKASMIN-SS dikembangkan dengan pendekatan organisasi modern. Orientasinya bukan hanya membangun jejaring bisnis dan mempertemukan para pelaku usaha, tetapi juga mengubah kekuatan jejaring tersebut menjadi energi sosial yang memberikan manfaat kepada masyarakat.
Dalam konteks itulah Jum’at Berkah “Fastabiqul Khairat” menemukan bentuknya. Jejaring saudagar menjadi kekuatan ekonomi. Organisasi menjadi instrumennya. Dan kepedulian menjadi dampak yang dirasakan masyarakat.

Hampir dua tahun berjalan, program tersebut terus bergerak dengan dukungan para donatur, baik dari internal maupun eksternal organisasi. Partisipasi datang dari berbagai latar belakang, mulai dari kalangan pemerintahan, swasta, pengusaha, anggota keluarga besar Adhyaksa hingga masyarakat luas.
Posisi Dt. Toembidjo dalam IKASMIN-SS juga tidak berhenti pada gagasan program sosial. Beliau dipercaya sebagai Dewan Komite Etik & Pengawasan IKASMIN-SS, sebuah posisi yang menempatkannya pada ruang pengawasan nilai, etika dan tata kelola organisasi.
Di lingkungan IKM Sapayuang—Ikatan Keluarga Minangkabau Sapayuang Sulawesi Selatan, Dt. Toembidjo juga merupakan salah satu Dewan Pembina.
Sementara dalam lingkup nasional, beliau dipercaya sebagai salah satu Dewan Pakar DPP IKM (Ikatan Keluarga Minang).
Dengan demikian, kiprah Dt. Toembidjo berada pada beberapa lapis ruang organisasi perantau Minang: dari IKASMIN-SS sebagai organisasi sayap yang berorientasi pada saudagar dan pelaku usaha, IKM Sapayuang sebagai organisasi keluarga Minangkabau di Sulawesi Selatan, hingga DPP IKM sebagai organisasi keluarga Minang dalam lingkup nasional.
Dua organisasi tersebut memiliki akar, sejarah dan ruang pengabdian yang berbeda. IKM Sapayuang merupakan organisasi lokal perantau Minangkabau di Makassar yang telah berdiri sejak 1960, sementara Ikatan Keluarga Minang (IKM) berdiri pada 2016 sebagai organisasi perantau Minang dalam lingkup nasional.
Keduanya menjadi bagian dari mozaik besar masyarakat Minang di rantau yang terus menjaga identitas, memperkuat silaturahmi dan membangun kontribusi di tengah masyarakat.

Di bawah naungan ekosistem IKM Sapayuang, IKASMIN-SS mengambil ruang yang lebih spesifik: menghimpun dan mengembangkan potensi saudagar serta pelaku usaha Minangkabau di Sulawesi Selatan. Organisasi tersebut dibangun dengan semangat modernitas kelembagaan, mengutamakan jejaring, kolaborasi, profesionalisme dan kebermanfaatan.
Struktur kepemimpinan IKASMIN-SS saat ini berada di bawah Ketua Presidium Sauki Mangkuto Sutan, dengan H. Feri Irawan sebagai Wakil Ketua, Hendri Sutan Pado sebagai Bendahara, serta Isnaini Al Ihsan, S.H., Dt. Mangkuto Alam sebagai Sekretaris Jenderal. Di antara jajaran tersebut, Sekretaris Jenderal Dt. Mangkuto Alam memegang peran penting sebagai salah satu motor penggerak organisasi.
Sebagai seorang Penghulu/Niniak Mamak Minangkabau, Dt. Mangkuto Alam membawa pengalaman panjang dalam dunia organisasi. Rekam jejaknya bersentuhan dengan HIPMI, KNPI dan kepengurusan DPP IKM.

Dalam perjalanan IKM Sapayuang, ia dipercaya memimpin Tim 12 Legalitas yang menangani proses pembaharuan AD/ART sekaligus pengurusan penerbitan Akta Notaris Pendirian IKM Sapayuang. Sementara dalam proses pembentukan IKASMIN-SS, Dt. Mangkuto Alam dipercaya sebagai Sekretaris Tim 9 penyusun AD/ART IKASMIN-SS, dengan Kol. Inf. Indra Kurnia, S.Sos., M.Si. sebagai Ketua Tim 9.
Kol. Inf. Indra Kurnia sendiri kini dipercaya sebagai Ketua Tim Jum’at Berkah “Fastabiqul Khairat” IKASMIN-SS, sehingga terdapat kesinambungan menarik antara proses pembentukan fondasi organisasi dan pengelolaan program sosialnya.
“Duo Datuak”: Dua Figur, Dua Peran, Satu Jejak Organisasi
Dalam perjalanan tersebut, nama Dt. Toembidjo dan Dt. Mangkuto Alam kemudian dikenal di lingkungan internal sebagai “Duo Datuak”. Yang mana sebutkan tersebut lahir dari salah satu Dewan Penasehat IKM Sapayuang (Alm) Nien Kanata.

Sebutan tersebut bukan semata karena keduanya sama-sama menyandang gelar adat, tetapi juga menggambarkan dua figur yang memiliki peran berbeda namun pernah berada dalam sejumlah proses penting pembentukan dan penguatan organisasi.
Dt. Toembidjo hadir dengan pengalaman di bidang hukum, pemerintahan dan kelembagaan. Sementara Dt. Mangkuto Alam bergerak lebih intens pada wilayah organisasi, administrasi, legalitas dan eksekusi program. Keduanya pernah berada dalam rangkaian proses pembaharuan AD/ART IKM Sapayuang dan pembentukan fondasi kelembagaan IKASMIN-SS.
Ketua Presidium IKASMIN-SS Sauki Mangkuto Sutan menyebut “Duo Datuak” sebagai gambaran dua karakter yang saling melengkapi dalam perjalanan organisasi.
“Dt. Toembidjo dan Dt. Mangkuto Alam itu kami kenal sebagai Duo Datuak. Keduanya memiliki karakter dan ruang pengabdian yang berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan: sama-sama berpikir tentang bagaimana organisasi ini bisa memiliki fondasi yang kuat dan bergerak dengan arah yang jelas.”
“Dt. Toembidjo membawa gagasan dan perspektif yang luas, salah satunya yang kemudian melahirkan Jum’at Berkah Fastabiqul Khairat. Sementara Dt. Mangkuto Alam adalah salah satu motor yang memastikan gagasan dan sistem organisasi dapat diterjemahkan menjadi kerja nyata. Jadi, kalau berbicara tentang perjalanan IKASMIN-SS, keduanya punya jejak masing-masing.”
Menurut Sauki, keberadaan dua figur tersebut menunjukkan bahwa organisasi modern tidak cukup hanya mengandalkan struktur.
“Organisasi harus memiliki gagasan, sistem dan orang-orang yang mampu menggerakkannya. Gagasan tanpa eksekusi akan berhenti menjadi wacana. Sebaliknya, eksekusi tanpa fondasi organisasi akan kehilangan arah. Di situlah saya melihat peran Dt. Toembidjo dan Dt. Mangkuto Alam saling melengkapi.”
Kini, hampir dua tahun setelah digagas, Jum’at Berkah “Fastabiqul Khairat” terus menjadi salah satu wajah sosial IKASMIN-SS.
Program tersebut telah melewati berbagai ruang, lokasi dan momentum, dengan penerima manfaat yang berasal dari masyarakat yang membutuhkan, korban musibah, anak yatim, hingga berbagai kelompok masyarakat lainnya.
Di balik setiap paket makanan yang dibagikan, terdapat rantai kolaborasi yang panjang: ada saudagar yang berdonasi, pelaku usaha yang menyediakan makanan, tim organisasi yang mengoordinasikan distribusi, para relawan yang bergerak di lapangan, serta para donatur yang mempercayakan kepeduliannya melalui IKASMIN-SS.
Di sinilah gagasan Dt. Toembidjo memperoleh makna yang lebih luas. Sebuah gagasan yang dimulai dari kepedulian, kemudian menemukan rumahnya dalam organisasi, lalu tumbuh menjadi gerakan bersama.
Bagi IKASMIN-SS, Jum’at Berkah “Fastabiqul Khairat” bukan sekadar agenda berbagi setiap pekan. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan organisasi dalam membuktikan bahwa jejaring saudagar dapat melahirkan dampak sosial, dan organisasi modern dapat tetap berdiri di atas nilai-nilai kemanusiaan.
Dan di antara perjalanan tersebut, nama Dr. H. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo menempati ruang tersendiri: sebagai salah satu figur penting IKASMIN-SS, sebagai Dewan Komite Etik & Pengawasan, sekaligus sebagai inisiator lahirnya program kerja resmi Jum’at Berkah “Fastabiqul Khairat” IKASMIN-SS.

Sementara Dt. Mangkuto Alam, sebagai Sekretaris Jenderal dan motor penggerak organisasi, menjadi bagian dari energi yang mengolah gagasan tersebut ke dalam sistem kerja dan gerak kelembagaan.
Dua Datuak, dua peran, satu jejak.
Dan dari Makassar, gerakan itu terus berjalan.
IKASMIN-SS
Dari Perantau Saudagar Minangkabau Sapayuang Sulawesi Selatan Untuk Indonesia.

