Penghulu Adat/Niniak Mamak Minangkabau di Rantau: “Malang Indak Dapek Ditolak, Mujua Indak Dapek Diraiah”
MANADO, (22/09) — Dari Bumi Nyiur Melambai, Sulawesi Utara, duka atas musibah galodo yang melanda Kabupaten Solok, Sumatera Barat, turut disuarakan Dr. Ferrytass., Dt. Toembidjo, Plt. Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara yang juga merupakan Penghulu Adat/Niniak Mamak Minangkabau.

Berada jauh dari ranah, namun tetap terikat oleh pertalian adat, budaya dan persaudaraan, Dr. Ferrytass., Dt. Toembidjo menyampaikan turut berduka cita dan doa kepada seluruh masyarakat Kabupaten Solok yang terdampak musibah.
Sebagai tokoh Minangkabau di rantau, kepedulian tersebut tidak hanya lahir dari rasa kemanusiaan, tetapi juga dari ikatan badunsanak yang secara turun-temurun menjadi bagian dari jati diri masyarakat Minangkabau.
“Malang indak dapek ditolak, mujua indak dapek diraiah. Pituah adat ini mengingatkan kita bahwa manusia memiliki keterbatasan di hadapan ketentuan Allah SWT. Namun, menerima takdir bukan berarti berhenti berikhtiar. Justru ketika musibah datang, saat itulah kesabaran, kepedulian dan semangat untuk saling membantu harus semakin diteguhkan,” ujar Dr. Ferrytass., Dt. Toembidjo.

Menurut beliau, musibah yang menimpa Solok merupakan duka yang dirasakan bukan hanya oleh masyarakat di ranah, tetapi juga oleh urang awak yang berada di berbagai penjuru rantau.
Bagi masyarakat Minangkabau, ranah dan rantau bukan sekadar dua ruang geografis yang dipisahkan jarak. Keduanya merupakan bagian dari sebuah mata rantai kehidupan yang bertaut melalui adat, darah, budaya, sejarah dan rasa persaudaraan. Karena itu, ketika ranah sedang dilanda musibah, rantau seyogianya tidak hanya menyaksikan dari kejauhan. Doa, perhatian dan kepedulian menjadi bentuk nyata dari filosofi badunsanak yang terus hidup dalam perjalanan masyarakat Minangkabau.
“Ranah dan rantau boleh dipisahkan oleh jarak dan bentangan samudera, tetapi tidak oleh rasa. Ketika dunsanak di kampung halaman sedang diuji, hati urang awak di rantau pun ikut bergetar. Doa menjadi ikhtiar batin, kepedulian menjadi wujud ukhuwah, dan kebersamaan menjadi kekuatan untuk melewati ujian.”

Dalam kapasitasnya sebagai Penghulu Adat/Niniak Mamak Minangkabau, Dt. Toembidjo juga mengajak masyarakat Minangkabau di rantau untuk terus menjaga tali silaturahmi dan memperkuat solidaritas bagi masyarakat yang terdampak.
Selain mengemban amanah sebagai Plt. Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Dr. Ferrytass., Dt. Toembidjo juga aktif dalam berbagai wadah keminangkabauan di perantauan. Kiprah tersebut antara lain dijalankan melalui DPD IKM Manado, organisasi Bundo Kanduang, serta Tuah Sakato Manado, Sulawesi Utara, di samping amanah beliau sebagai Dewan Pakar DPP IKM, Dewan Pembina IKM Sapayuang, serta Dewan Komite Etik & Pengawasan IKASMIN-SS.
Berbagai posisi tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari ikhtiar untuk merawat nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, sekaligus menjaga kesinambungan hubungan antara ranah dan rantau.
“Organisasi dan paguyuban Minangkabau di rantau hendaknya tidak hanya menjadi ruang silaturahmi, tetapi juga menjadi simpul kebajikan, tempat kita merawat persaudaraan dan menghadirkan kemanfaatan ketika dunsanak membutuhkan,” tutur beliau.
Beliau menegaskan, filosofi saciok bak ayam, sadanciang bak basi hendaknya tidak berhenti sebagai ungkapan adat, tetapi diterjemahkan menjadi energi sosial yang mampu memperkuat persatuan dan kepedulian.

Dalam perspektif keislaman, lanjutnya, musibah merupakan momentum untuk memperkuat sabar, tawakal dan ikhtiar. Ketiganya harus berjalan beriringan: menerima ketetapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan hati yang lapang, sembari terus berusaha memberikan pertolongan terbaik kepada sesama.
“Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kekuatan dan ketabahan kepada seluruh masyarakat yang terdampak. Semoga para korban mendapatkan pertolongan dan perlindungan-Nya, keluarga yang menghadapi musibah diberikan keteguhan hati, serta seluruh personel, relawan dan masyarakat yang berada di garis depan penanganan bencana senantiasa diberikan keselamatan,” imbuh Liau Angku Dt. Toembidjo.
Dt. Toembidjo juga mengingatkan agar musibah tidak sekadar menjadi pemberitaan yang melintas di ruang digital. Menurutnya, tragedi kemanusiaan semestinya membangkitkan kesadaran kolektif, empati dan solidaritas yang bermartabat.

Badunsanak bukan hanya ketika kita berbagi kebahagiaan, tetapi terutama ketika kita hadir dalam duka.
Di sanalah marwah persaudaraan menemukan maknanya.
Beliau berharap proses evakuasi, pencarian, penanganan dan pemulihan dapat berlangsung secara optimal serta masyarakat Solok segera memperoleh kekuatan untuk bangkit.
“Semoga setiap air mata menjadi bagian dari doa, setiap kehilangan menjadi jalan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan setiap ikhtiar menjadi jembatan menuju pemulihan. Dari Bumi Nyiur Melambai, dari rantau yang jauh namun hati yang tetap dekat dengan ranah, doa dan simpati kami untuk Solok.”
Pray for Solok.

