EKSKLUSIF: Dentuman Sejarah Keluarga Besar Wakajati Sulut Ferrytass., Dt. Toembidjo, Sang Sulung Resmi Sandang Toga Adhyaksa, Tabir Identitas ‘Monster’ Penakluk Empat Kampus Raksasa Terbongkar!

EKSKLUSIF: Dentuman Sejarah Keluarga Besar Wakajati Sulut Ferrytass., Dt. Toembidjo, Sang Sulung Resmi Sandang Toga Adhyaksa, Tabir Identitas ‘Monster’ Penakluk Empat Kampus Raksasa Terbongkar!

JAKARTA — Ada magis dan kebanggaan yang berpadu di udara ibu kota pada Kamis, 25 Juni 2026. Di satu sisi, orkestrasi penegakan hukum nasional mendapatkan suntikan darah muda yang menjanjikan. Di sisi lain, sebuah misteri besar yang selama ini menyelimuti jagat pendidikan tinggi tanah air akhirnya terurai dengan benderang. Hari itu menjadi sebuah manuskrip sejarah yang diukir dengan tinta emas oleh keluarga besar Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Sulawesi Utara, H. Ferrytass., S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo. Saat sang putra sulung dikukuhkan dalam sakralitas sumpah Korps Adhyaksa, identitas sang putra kedua yang menggemparkan empat perguruan tinggi raksasa akhirnya terkuak ke hadapan publik secara epik.

Di bawah kanopi langit Ragunan, Jakarta Selatan, Lapangan Upacara Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Kejaksaan RI memancarkan aura wibawa yang pekat. Ribuan pasang mata menatap takzim ke arah barisan rapi 505 insan terpilih terdiri atas 500 calon Jaksa dari unsur PNS Kejaksaan dan 5 personel partisipan TNI dalam upacara penutupan Pendidikan dan Pelatihan Pembentukan Jaksa (PPPJ) Angkatan LXXXIII (83) Gelombang I Tahun 2026. Suara bariton Jaksa Agung RI, ST Burhanuddin, menggema membelah lapangan, bertindak sebagai Inspektur Upacara yang memimpin langsung pengambilan sumpah jabatan.

Di momen yang menggetarkan dada tersebut, saat epaulet pangkat disematkan dan sumpah yustisia diikrarkan, berdirilah Muhammad Syahidul Akbar., S.H. Pemuda kelahiran tahun 1999 yang sukses menuntaskan pendidikannya di Kelas 9 PPPJ tersebut akhirnya merampungkan transformasinya menjadi Jaksa seutuhnya, disaksikan langsung oleh tatapan penuh haru dan kebanggaan dari sang ayah, Wakajati Sulut Ferrytass., Dt. Toembidjo beserta keluarga besar.

Keberhasilan Syahidul Akbar menembus gerbang elite korps berbaju cokelat bukanlah sebuah lompatan instan, melainkan hasil dari kristalisasi portofolio profesional yang dinamis. Sebelum mengenakan toga kebesaran penuntut umum, alumnus Fakultas Hukum Universitas Andalas ini telah mengkalibrasi ketangguhan mental dan intelektualitasnya di berbagai pusaran industri. Ia mengawali kariernya sebagai Social Media Specialist di PT. Media Musik Proaktif (Mei–Desember 2022) untuk membedah algoritma komunikasi massa, lalu bertransformasi menjadi Legal Staff di raksasa manufaktur PT. Semen Indonesia Beton (Januari 2023–Februari 2024) guna menangani kompleksitas mitigasi hukum korporasi. Konsistensinya memuncak saat ia lolos seleksi abdi negara pada tahun 2024, membawanya mengemban amanah sebagai CPNS Kejaksaan di Kejaksaan Negeri Pemalang.

Dengan fondasi pendidikan urban yang diretas dari SDS Angkasa 4 Halim Perdanakusuma, SMPN 157 Jakarta, hingga SMAN 42 Jakarta, Akbar membawa paradigma hukum modern yang presisi. Pelantikan hari itu adalah sublimasi dari kematangan kariernya, siap menjadi pedang keadilan yang tajam bagi republik.

Namun, kejutan sesungguhnya justru meledak di sela-sela senyum kebanggaan acara pelantikan tersebut. Bersinggungan dengan gema pelantikan di Ragunan, sebuah tanda tanya besar yang selama ini memicu spekulasi liar di ruang digital dan meja redaksi media massa akhirnya terjawab tuntas. Sebelumnya, publik dihebohkan oleh anomali akademis dari seorang pemuda bernama Muhammad Akram Alhanif yang sukses mencatatkan namanya di empat Perguruan Tinggi Negeri (PTN) klaster elite sekaligus untuk Tahun Ajaran 2026/2027.

Di tengah sakralitas Badiklat, terkonfirmasi secara sahih bahwa “Monster Akademik” tersebut tak lain dan tak bukan adalah putra kedua dari Wakajati Sulut Ferrytass., Dt. Toembidjo, sekaligus adik kandung dari Syahidul Akbar.

Fakta ini seketika menyapu bersih segala spekulasi. Tak heran jika sang pemuda memiliki resonansi intelektual yang luar biasa; ia lahir dari rahim seorang akademisi (sang ibunda) dan dibesarkan oleh ketegasan seorang praktisi hukum senior bertangan dingin yang juga memegang kehormatan sebagai Niniak Mamak (Penghulu Adat) Minangkabau.

Sang adik sukses menaklukkan kasta tertinggi jalur prestasi yang membelah dua rumpun keilmuan prestisius secara absolut: lolos di program studi Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Seleksi Siswa Unggul (SSU), diterima di Teknik PWK Universitas Gadjah Mada (UGM) via Jalur Mandiri, serta menembus Fakultas Hukum di Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Universitas Andalas (Unand) melalui jalur yang sama menyusul jejak almamater sang kakak.

Pencapaian Alhanif tentu tidak jatuh dari langit. Fondasi kecemerlangannya dirajut dalam diam sejak di SMP/Pesantren Nurul Fikri, Serang, Banten, sebelum mekar menjadi talenta super di SMA Unggul AlBayan Cibadak, Sukabumi. Kisah heroisme ini semakin dramatis karena Alhanif sempat terempas kegagalan di jalur UTBK-SNBT. Namun, mewarisi darah ketangguhan dari sang ayah, ia menolak tunduk. Ia mengonversi kekecewaan menjadi bahan bakar spiritual, melipatgandakan intensitas belajar, dan melakoni mobilitas ekstrem dalam maraton seleksi lintas provinsi dari Yogyakarta, Bandung, Padang, hingga Jakarta, sebelum akhirnya memborong kemenangan paripurna.

Menyikapi pencapaian luar biasa kedua putranya di hari yang sama, Wakajati Sulut Ferrytass., Dt. Toembidjo menyampaikan refleksi mendalam yang sarat akan nilai filosofis.

“Keberhasilan ini bukanlah sebuah garis akhir, melainkan titik awal dari pengabdian yang sesungguhnya. Bagi kami sebagai orang tua, melihat anak-anak tumbuh menjadi individu yang tangguh, berkarakter, dan tak gentar menghadapi kegagalan adalah anugerah terbesar. Pencapaian akademik dan gelar profesi ini hanyalah instrumen semata. Ujian sejatinya adalah bagaimana mereka kelak mampu menundukkan ego, menjaga integritas, dan mendedikasikan ilmu tersebut untuk menegakkan keadilan serta membangun peradaban bangsa,” ungkap beliau dengan penuh wibawa.

Terkuaknya identitas keluarga ini secara otomatis memantik kembali diskursus publik tentang renaissance kejayaan pemikiran Minangkabau. Keluarga Dt. Toembidjo sukses mereplikasi karakteristik pemikir makro tanah leluhur di masa lalu seperti Bung Hatta atau Tan Malaka yang cakap menyelaraskan silogisme keteraturan struktur (Teknik PWK yang dikuasai sang adik) dengan ketajaman nalar keadilan (Ilmu Hukum dan Korps Kejaksaan yang direngkuh sang kakak).

Pada akhirnya, Wakajati Sulut Ferrytass., Dt. Toembidjo dan istri tidak sekadar merayakan keberhasilan personal sebuah keluarga. Dengan terkuaknya tabir identitas ini di tengah sakralitas pelantikan, mereka secara de facto telah mempersembahkan dua kader pemimpin masa depan kombinasi mematikan antara sang penegak keadilan dan sang arsitek peradaban untuk merawat kedaulatan dan merancang arah kompas kemajuan bangsa Indonesia.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *