Simfoni Dua Kekuatan Parlemen Minangkabau Mengguncang Cakrawala Kota Daeng: Hangatnya Sambutan Petinggi IKASMIN-SS di Tepian Selat

Simfoni Dua Kekuatan Parlemen Minangkabau Mengguncang Cakrawala Kota Daeng: Hangatnya Sambutan Petinggi IKASMIN-SS di Tepian Selat

MAKASSAR, (09/06) – Di bawah eksotisme langit senja Center Point of Indonesia (CPI) Makassar yang menyala megah bak emas cair, sebuah panggung diplomasi tingkat tinggi tersaji secara spektakuler. Selasa sore (9/6), riak Selat Makassar tidak sekadar menjadi latar visual, melainkan saksi bisu atas sebuah pertemuan epik yang mengawinkan ketajaman visi geopolitik, otoritas parlemen, dan keagungan falsafah komunal lintas pulau.

Ir. Alif Usman Amin, ST., MBA., IPU., ASEAN Eng sang konseptor pergerakan sekaligus Director of Operations PT Kawasan Industri Makassar (KIMA) yang bergerak dalam kapasitas strategis sebagai Dewan Komite Kesejahteraan Anggota IKASMIN-SS (Ikatan Saudagar Minangkabau Sapayuang Sulawesi Selatan) bertindak sebagai pemegang kendali jamuan agung ini. Dengan karisma yang kuat, beliau menyambut langsung kehadiran dua singa parlemen, sang pemegang palu regulasi dari Ranah Minang: Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Sumatera Barat, Doni Harsiva Yandra, S.IP., ME (F-Demokrat), didampingi sang wakil ketua komisi yang sarat pengaruh, Erick Hamdani, S.E., Dt. Ambasa (F-Nasdem)

Kunjungan dua dedengkot legislator Sumatera Barat ke jantung Indonesia Timur ini bukan sekadar lawatan biasa. Mereka membawa misi berat dan agresif: menguji penetrasi, mengarsiteki koordinasi taktis terkait akselerasi kemantapan infrastruktur jalan, sekaligus membedah blueprint strategi efisiensi anggaran super ketat bersama dinas-dinas vital di Sulawesi Selatan. Di sela-sela padatnya tensi kedinasan, ruang rehat justru bermutasi menjadi arena “pertempuran gagasan” yang dikemas elegan.

Berlindung di balik tajuk “Ngopi” (Ngobrol Perkara Ilmu) pada salah satu kafe paling representatif di kawasan elite CPI, cangkir-cangkir kopi yang mengepul menjadi dirigen bagi lahirnya pemikiran-pemikiran visioner. Ritme diskusi kian berbobot dan menembus batas formalitas dengan hadirnya Sekretaris Jenderal IKASMIN-SS, Isnaini Al Ihsan, S.H., Dt. Mangkuto Alam, yang menyuntikkan energi intelektual serta mempertegas legitimasi kultural pertemuan tersebut.

Narasi bergerak liar namun terukur, menjangkau konstelasi politik kontemporer, peta makro bisnis modern, hingga perdebatan fundamental mengenai kelangsungan adat di era disrupsi.

Puncak estetika pertemuan ini meledak ketika ruang dialog dikuasai oleh Erick Hamdani, S.E., Dt. Ambasa dan Isnaini Al Ihsan, S.H., Dt. Mangkuto Alam. Pertemuan dua Niniak Mamak/Penghulu Adat Minangkabau di tanah rantau ini melahirkan debaran kultural yang luar biasa. Di tengah modernitas Makassar, otoritas adat ; “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” diletakkan kembali ke singgasana tertingginya, membuktikan bahwa para pemegang kebijakan ini adalah petarung-petarung modern yang berdiri kokoh di atas fondasi tradisi yang tak tergoyahkan.

Simfoni kekuatan ini berlanjut tanpa kendor saat malam menyelimuti Kota Daeng. Rombongan bergeser menuju episentrum kuliner laut—sebuah restoran seafood legendaris di sudut premium Makassar. Di sinilah, diplomasi meja makan bermutasi menjadi ruang penaklukan rasa.

Sembari menghayati kesegaran hidangan laut yang disajikan, atmosfer dipanaskan dengan bedah anatomi kuliner lokal. Tuan rumah menyajikan narasi teatrikal yang menggugah adrenalin gastronomi: ketajaman karakter kuah kuning Palumara yang asam-pedas-segar, kedalaman rasa bumbu autentik Palukaci, hingga eksekusi sempurna ikan bakar Parappe dengan sengatan sambal khasnya yang meledak di lidah.

Malam itu, sekat-sekat birokrasi runtuh, digantikan oleh jalinan aliansi strategis yang paripurna. Di bawah inisiasi para petinggi IKASMIN-SS, sebuah standar baru diplomasi antardaerah telah ditancapkan: tempat di mana ketajaman regulasi parlemen, geliat korporasi industri, dan kesakralan adat Minangkabau melebur sempurna dalam kehangatan rasa di Tanah Daeng.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *