Dewan Pakar DPP IKM Dr. Ferry Taslim., Dt. Toembidjo Lepas Kepergian Putri, Solidaritas Dunsanak Minangkabau Mengiringi Jenazah hingga Peristirahatan Terakhir di Manado

Dewan Pakar DPP IKM Dr. Ferry Taslim., Dt. Toembidjo Lepas Kepergian Putri, Solidaritas Dunsanak Minangkabau Mengiringi Jenazah hingga Peristirahatan Terakhir di Manado

MANADO (15/08) — Duka menyelimuti keluarga besar DPD IKM (Ikatan Keluarga Minangkabau) Manado, Putri Andriani Julfica, putri sulung pasangan Junaidi Chaniago dan Eby Hermanus, berpulang ke rahmatullah di Semarang, Jumat (14/8/2026), tepat pada hari ulang tahunnya yang ke-26.



Kepergian almarhumah dalam usia yang masih sangat muda meninggalkan kesunyian panjang di tengah keluarga. Putri diketahui berdomisili di Jakarta dan berada di Semarang dalam rangka menjalankan tugas. Ia mengembuskan napas terakhir setelah mengalami serangan jantung di sebuah hotel di kawasan Jalan Gajah Mada, Semarang.



Berdasarkan informasi keluarga, pemeriksaan oleh pihak kepolisian tidak menemukan tanda-tanda kekerasan maupun sebab lain selain dugaan serangan jantung.

Putri merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia meninggalkan kedua orang tua, Junaidi Chaniago dan Eby Hermanus, serta seorang adik perempuan bernama Anggelis. Almarhumah menempuh pendidikan di SD 11 Manado, SMP 2 Manado, dan SMA 7 Manado sebelum melanjutkan aktivitasnya sebagai selebgram dan menetap di Jakarta.

Begitu kabar berpulangnya Putri sampai kepada keluarga dan dunsanak, solidaritas keluarga besar Minangkabau di rantau bergerak dalam senyap, namun nyata.

Di Semarang, Pengurus IKMS Kota Semarang hadir di RSUP Dr. Kariadi, termasuk di kamar jenazah, mendampingi proses pengurusan serta membantu berbagai kebutuhan yang diperlukan untuk kelancaran pemulangan jenazah ke Manado.



Kehadiran tersebut menjadi gambaran nyata bahwa bagi orang Minangkabau, dunsanak tidak pernah menjadi sekadar kata. Ia adalah ikatan batin yang bekerja ketika seseorang sedang berada dalam titik paling rapuh dalam kehidupannya.

Setelah seluruh proses pengurusan selesai, jenazah Putri diberangkatkan dari Semarang pada Sabtu (15/8/2026) menuju Manado dengan transit di Jakarta.

Jenazah kemudian tiba di Manado sekitar pukul 16.30 WITA dan langsung dibawa menuju rumah duka di Palampat, Kelurahan Tikala, Kota Manado.

Di rumah duka tersebut, keluarga, kerabat, serta dunsanak memberikan penghormatan terakhir sebelum jenazah kemudian diberangkatkan menuju tempat pemakaman.



Di Manado, Dewan Pakar DPP IKM, Dr. H. Ferry Taslim, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, turut hadir memberikan penghormatan terakhir dan melepas kepergian almarhumah menuju peristirahatan terakhir.



Kehadiran Dt. Toembidjo bukan hanya dalam kapasitasnya sebagai Dewan Pakar DPP IKM, tetapi juga sebagai Niniak Mamak sekaligus Penghulu Adat Minangkabau, sebuah posisi adat yang melekat dengan amanah menjaga marwah, mengayomi dunsanak, dan hadir ketika keluarga menghadapi peristiwa penting dalam perjalanan kehidupan.

Dalam suasana duka yang penuh haru, setelah shalat Magrib berjamaah, jenazah Putri terlebih dahulu dishalatkan sebagai bagian dari penghormatan terakhir dan penyempurnaan rangkaian fardhu kifayah. Prosesi tersebut berlangsung di Masjid yang berlokasi tidak jauh dari rumah duka di Palampat, Kelurahan Tikala, Kota Manado.



Usai dishalatkan, jenazah kemudian diantarkan menuju Pemakaman Muslim Tikala untuk dimakamkan. Langkah demi langkah mengiringi perjalanan terakhir seorang anak yang pulang ke tanah tempat ia pernah tumbuh, menempuh pendidikan, menyusun mimpi, dan menapaki awal kehidupannya.



Tanah Manado akhirnya menjadi tempat peristirahatan terakhir Putri. Di sana, jasadnya diserahkan kepada bumi, sementara doa-doa keluarga, kerabat, dan dunsanak menjadi untaian pengiring menuju keharibaan Allah SWT.

“Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung”

Dr. Ferry Taslim., Dt. Toembidjo menyampaikan bahwa kehadiran dunsanak dalam suasana duka merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan kemanusiaan yang tidak boleh kehilangan ruhnya di tengah perubahan zaman.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Itulah salah satu napas kehidupan urang Minang di rantau: menghormati bumi tempat berpijak, menjunjung langit tempat bernaung, serta memuliakan adat dan nilai kemanusiaan di mana pun berada. Dan ketika takdir Allah mempertemukan kita dengan sebuah kehilangan, maka marwah persaudaraan itu tidak cukup hanya dikenang dalam kata-kata. Ia harus hadir dalam kepedulian, dalam penghormatan, dan dalam doa. Sebab dunsanak tidak pernah selesai hanya karena jarak; ia hidup dalam hati, dalam adat, dan dalam doa yang kita titipkan kepada Allah SWT.”

Menurutnya, semangat tersebut merupakan bagian dari napas panjang falsafah Minangkabau yang menjadikan agama sebagai fondasi kehidupan adat dan sosial.

“Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandikan Kitabullah. Falsafah ini mengajarkan bahwa adat harus berjalan dalam cahaya syariat, dan kehidupan manusia harus senantiasa bermuara kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika maut menjemput, seluruh kemegahan dunia menjadi sunyi. Yang tinggal hanyalah amal, doa, dan kebaikan yang pernah kita semai.”

Beliau juga menyampaikan doa bagi almarhumah dan keluarga yang ditinggalkan.

“Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni segala khilaf dan dosa almarhumah Putri Andriani Julfica, menerima seluruh amal ibadahnya, melapangkan dan menerangi alam kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah memberikan kesabaran yang luas, ketabahan yang kokoh dan keikhlasan dalam menerima takdir-Nya.”

Kepergian Putri menyisakan sebuah kisah tentang perjalanan pulang yang penuh makna.

Ia berangkat dari Semarang dalam keheningan sebuah kepulangan terakhir. Setelah melewati perjalanan udara dan transit di Jakarta, jenazahnya tiba di Manado sekitar pukul 16.30 WITA. Dari bandara, ia dibawa menuju rumah duka di Palampat, Tikala, sebelum akhirnya dimakamkan di Pemakaman Muslim Tikala.

Di sana, tanah menerima jasadnya dengan sunyi. Langit menjadi saksi. Keluarga mengiringi dengan air mata. Dunsanak melepas dengan doa.

Sebab pada akhirnya, setiap manusia hanyalah seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan menuju satu alamat yang sama: keharibaan Allah SWT.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Semoga Allah SWT menjadikan kubur almarhumah sebagai raudhah min riyadhil jannah, taman dari taman-taman surga; melimpahkan rahmat dan maghfirah-Nya, serta menempatkan Putri di antara hamba-hamba-Nya yang memperoleh ridha dan kasih sayang-Nya.

Dan bagi keluarga yang ditinggalkan, semoga duka ini perlahan menjelma menjadi ketabahan, kehilangan menjadi doa, dan air mata menjadi saksi atas cinta yang tidak pernah selesai.

Selamat jalan, Putri.

Dari rantau, dunsanak mengiringi dengan kasih.
Dari Manado, keluarga melepas dengan doa.
Dan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, segala perjalanan akhirnya kembali.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *