Secangkir Tawa Setelah Jum’at Berkah: Pujangga IKASMIN-SS Menjeda Langkah di Pondok Minang

Secangkir Tawa Setelah Jum’at Berkah: Pujangga IKASMIN-SS Menjeda Langkah di Pondok Minang

Makassar, (14/08) — Setelah menuntaskan rangkaian distribusi 660 paket Jum’at Berkah kepada saudara-saudara yang terdampak musibah kebakaran di Bontoala serta anak-anak yatim di sejumlah panti asuhan Kota Makassar, para penggerak kebaikan IKASMIN-SS tidak serta-merta menutup hari dengan kesibukan administratif.

Usai menunaikan shalat Jum’at, langkah mereka justru berlabuh pada sebuah ruang yang lebih sederhana—namun hangat oleh persaudaraan. RM. Pondok Minang, Jalan Masjid Raya, menjadi persinggahan siang itu. Rumah makan milik Hendri Sutan Pado, Bendahara IKASMIN-SS, tersebut menjelma seperti sebuah surau kecil di tengah hiruk-pikuk kota: tempat para dunsanak melepas penat, menyambung cerita, dan mensyukuri sebuah ikhtiar yang baru saja ditunaikan.

Hadir Ketua Umum IKM Sapayuang, Ir. H. Akmal Musthafa; Ketua Presidium IKASMIN-SS, Sauki Mangkuto Sutan; Sekretaris Jenderal IKASMIN-SS, Isnaini Al Ihsan, S.H., Dt. Mangkuto Alam; Bendahara IKASMIN-SS sekaligus tuan rumah RM. Pondok Minang, Hendri Sutan Pado; Sekretaris Tim Jum’at Berkah “Fastabiqul Khairat” IKASMIN-SS; M. Fendi Intan Marajo; Dewan Komite Kesejahteraan Anggota, Buya Syamsuardi; serta anggota IKASMIN-SS, Abrar. Mereka duduk tanpa sekat formalitas, melebur dalam suasana santai, berbagi cerita, bertukar pandangan, dan sesekali memecah keheningan dengan tawa yang lepas.

Tidak ada agenda resmi. Tidak ada podium. Tidak ada susunan acara. Yang ada hanyalah percakapan ringan selepas perjalanan panjang sebuah amal.

Obrolan mengalir begitu saja sesekali menyentuh kembali dinamika pembagian Jum’at Berkah, cerita kecil di lapangan, evaluasi sederhana, hingga berbagai kelakar yang membuat meja makan dipenuhi tawa. Di antara hidangan yang tersaji, para penggerak organisasi menemukan satu bentuk kebahagiaan yang sering kali luput dari hiruk-pikuk kerja kelembagaan: duduk bersama setelah menyelesaikan sebuah amanah.

Sebab dalam sebuah gerakan sosial, kebersamaan tidak selalu lahir dari forum resmi. Kadang ia tumbuh justru dari percakapan yang tidak direncanakan; dari tawa yang pecah tanpa komando; dari secangkir minuman yang diminum bersama; atau dari sepiring hidangan yang menjadi saksi bahwa perjalanan panjang akan terasa lebih ringan ketika ditempuh dalam semangat sapayuang, satu payung, satu rasa, satu persaudaraan.

Siang itu, Pondok Minang bukan sekadar rumah makan. Ia menjadi ruang jeda bagi para khadimul ummah mereka yang baru saja menyelesaikan sebagian kecil dari ikhtiar besar untuk menghadirkan kemanfaatan bagi sesama.

Di sana, wajah-wajah yang sejak pagi berada dalam atmosfer kerja sosial berubah menjadi lebih cair. Tawa berkelindan dengan cerita. Keseriusan organisasi sejenak beristirahat di antara keakraban para dunsanak.

Namun justru dari kesederhanaan itulah terpancar sebuah makna yang dalam: bahwa membangun kemaslahatan tidak harus selalu dengan bahasa yang keras dan formal. Ada kalanya ia tumbuh melalui keakraban, persahabatan, dan hati yang saling menguatkan.

Jum’at Berkah boleh selesai dalam hitungan jam, tetapi ukhuwah yang lahir darinya semestinya tidak mengenal kata selesai.

Sebab bagi IKASMIN-SS, amal bukan sekadar tentang berapa banyak paket yang berpindah dari tangan ke tangan. Ia juga tentang bagaimana hati-hati yang dipertemukan oleh kebaikan terus dirawat agar tetap saling menyapa, saling menguatkan, dan saling mengingatkan dalam perjalanan panjang menuju kemaslahatan.

Dan siang itu, di sebuah meja sederhana di RM. Pondok Minang, setelah 660 paket kebaikan menemukan para penerimanya, para pujangga organisasi pun menemukan kembali makna paling sederhana dari persaudaraan:

bahwa setelah lelah berbuat baik, ada kebahagiaan tersendiri ketika dapat duduk bersama, berbagi cerita, lalu tertawa dalam satu ruang yang dinaungi rasa persaudaraan.

Karena mungkin, begitulah Sapayuang sesungguhnya bekerja, satu payung untuk menaungi langkah, satu hati untuk merawat ukhuwah, dan satu niat untuk menghadirkan keberkahan bagi sesama.

Dari amal yang ditunaikan, lahir syukur. Dari kebersamaan yang dirawat, tumbuh ukhuwah. Dan dari keduanya, semoga Allah menuliskan keberkahan yang panjang bagi setiap langkah kecil menuju kemaslahatan.

“Fastabiqul Khairat — berlomba-lombalah dalam kebaikan, lalu pulanglah membawa hati yang lebih lapang.”

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *