MAKASSAR (19/07) — Di atas kanvas peradaban Tanah Daeng, di mana embusan Angin Mammiri senantiasa merawat ingatan tentang heroisme dan kebijaksanaan, sebuah ziarah intelektual yang sarat akan transendensi makna baru saja ditunaikan. Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Dr. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo, telah paripurna merampungkan odisi akademiknya, menjemput pendaran tertinggi keilmuan gelar Doktor Ilmu Hukum dari rahim Universitas Hasanuddin.
Namun, epik ini tidak berdiri tunggal di atas partitur disertasi. Sejak jejak perdananya mencumbui bumi Makassar pada Rabu (15/7/2026), sang penegak hukum senantiasa dipayungi oleh dedikasi tanpa batas dari sahabat karib yang menjadi bayang-bayang setianya, Isnaini Al Ihsan, S.H., Dt. Mangkuto Alam.

Keduanya bukanlah figur sembarangan; mereka adalah dwitunggal yang masyhur disapa “Duo Datuak”. Di altar kebudayaan, mereka berdiri kokoh sebagai Niniak Mamak Penghulu Adat sekaligus tiang penyangga di kursi Dewan Pembina IKM Sapayuang (Ikatan Keluarga Minangkabau Sapayuang) Sulawesi Selatan.
Lebih jauh, kepak sayap pengabdian mereka turut membelah labirin pemberdayaan sosial-ekonomi melalui Ikatan Saudagar Minangkabau Sapayuang Sulawesi Selatan (IKASMIN-SS), organisasi sayap strategis yang menopang napas pergerakan IKM Sapayuang. Di episentrum ini, Dr. Ferrytass., Dt. Toembidjo menancapkan keteladanan paripurna sebagai Dewan Komite Etik & Pengawasan, sementara Dt. Mangkuto Alam menjadi detak jantung denyut organisasi selaku Sekretaris Jenderal.
Kebersamaan dwitunggal ini adalah manifestasi batiniah yang amat luhur. Di setiap derap langkah perantauan, mereka memikul satu kompas metafisik yang absolut: Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Sebuah pedoman purba yang memastikan bahwa setinggi apa pun nalar melanglang buana, akar spiritualitas dan keadaban takkan pernah lapuk dimakan masa.
Menjelang hari yang ditahbiskan sebagai penentuan, ritus persaudaraan ini menyemai makna di ruang para begawan. Pada Kamis (16/7/2026), dengan wibawa yang menguar tenang, Dt. Mangkuto Alam mendampingi sang kolega untuk sowan ke ruang kerja Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Dr. Sila H. Pulungan, S.H., M.Hum.

Perjumpaan ini melampaui sekadar silaturahmi birokratis antar-petinggi ksatria Adhyaksa. Ia adalah sebuah prolog akademik; pertemuan dua arus pemikiran sebelum palu pengujian diketukkan. Dr. Sila H. Pulungan, S.H., M.Hum., seorang cendekiawan hukum dengan ketajaman analisis yang teramat disegani, adalah salah satu arsitek nalar yang akan menakar argumen Dr. Ferrytass keesokan harinya. Ruang kerja itu pun bertransformasi menjadi panggung dialektika sunyi, menyelaraskan frekuensi keadilan sebelum tiba di mimbar pembuktian.

Kala matahari tergelincir dari zenitnya pada Jumat (17/7/2026), manakala sujud dan munajat salat Jumat telah paripurna ditunaikan, keheningan menyelimuti ruang ujian tertutup Program Doktor Ilmu Hukum Unhas. Di sanalah sang Wakajati mengorkestrasikan anatomi yurisprudensinya, mendedah kebuntuan hukum dengan pisau analisis yang teramat tajam nan elegan di hadapan majelis penguji.

Pergumulan nalar, peluh, serta rentetan malam tanpa lelap itu akhirnya membuahkan resonansi yang purna. Sang “Datuak” dikukuhkan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan, merengkuh nilai gemilang 90 (A). Angka itu bukan sekadar kuantitas di atas kertas, melainkan sebuah monumen intelektual, penanda bahwa ketekunan yang dirawat dengan keikhlasan akan selalu direngkuh semesta.

Manakala cakrawala Makassar mulai bertahtakan gugusan konstelasi bintang, rona syukur diorkestrasikan dalam sebuah simfoni perjamuan. Jumat malam itu, berkat sentuhan inisiasi brilian dari sang sahabat, Dt. Mangkuto Alam, sebuah malam tasyakuran digelar dengan magis di lantai 19 One Nine Sky Lounge, Arthama Hotel.

Di antara kerlip lampu kota yang menghampar layaknya permata berserakan, jiwa-jiwa yang berpaut dalam kebanggaan berkumpul. Kehangatan menyeruak dari pelukan Keluarga Besar Minangkabau di tanah rantau, barisan pencerah dari Fakultas Hukum Unhas, serta delegasi kehormatan Kejati Sulsel. Suasana kian memancarkan pendar keakraban saat Dr. Sila H. Pulungan hadir merayakan momen tersebut, berdiri bukan lagi dalam kapasitas seremonial, melainkan sebagai kawan sejawat yang menenggak cawan kebahagiaan atas tuntasnya odisi sang kolega.
Dalam dekapan malam yang puitis itu, Dr. Ferrytass menitipkan sebuah aforisme mendalam tentang ilmu, persahabatan, dan kota yang telah melahirkannya kembali:
“Di altar keilmuan ini, saya menimba cahaya. Namun, tanpa bentangan karpet persaudaraan dari Tanah Daeng dan kesetiaan tak bersyarat seorang DTMA (Red: Dt. Mangkuto Alam), cahaya itu takkan pernah mencapai titik benderangnya. Makassar telah menjadi rahim yang menetaskan dedikasi; mengajarkan kepada saya bahwa pencapaian tertinggi dari sebuah ilmu bukanlah deret aksara dalam disertasi, melainkan cinta, adab, dan bakti yang merangkul semesta manusia.”
— Dr. Ferrytass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo
Menggenapi keharuan tersebut, Dt. Mangkuto Alam sang perajut kebahagiaan malam itu turut melisankan sanjak kesetiaannya yang dipenuhi ruh kebudayaan:
“Menjadi saksi sekaligus bayang-bayang yang mengawal sang cendekiawan menuju puncak epistemik adalah sebuah laku spiritual bagi saya. Sebagai ‘Datuak’, langkah kami adalah manifestasi hidup dari ‘Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah’. Kami ingin mewariskan satu kebenaran: bahwa sejauh apa pun nalar mengarungi samudra modernitas, akar keadaban takkan pernah tercabut. Malam ini, kebanggaan itu mekar, melampaui batas-batas teritorial, menjadi cahaya bagi kaum, dan pilar bagi keadilan.”
— Isnaini Al Ihsan, S.H., Dt. Mangkuto Alam
Fragmen-fragmen keemasan di semenanjung selatan Sulawesi itu akhirnya harus mengalir menuju muara perpisahan. Pada Sabtu (18/7/2026), dengan langkah yang kini memancarkan pendaran karisma seorang Doktor, Dr. Ferrytass kembali dikawal oleh Dt. Mangkuto Alam dan Yoanda Weafandi (Staf Protokoler Kejati Sulsel), menyusuri koridor Bandara International Sultan Hasanuddin.

Deru mesin burung besi yang mengangkasa menuju Manado siang itu tidak sekadar membelah awan. Ia membawa pulang seorang penjaga marwah, seorang cendekiawan agung yang siap menaburkan benih-benih keadilan yang lebih benderang di bentantara ufuk utara Sulawesi.

