Pijar Syukur di Ketinggian Losari: Mahkota Akademis Dr. Ferrytass., Dt. Toembidjo dalam Dekapan Tradisi dan Persaudaraan

Pijar Syukur di Ketinggian Losari: Mahkota Akademis Dr. Ferrytass., Dt. Toembidjo dalam Dekapan Tradisi dan Persaudaraan

MAKASSAR 17/07) — Saat ufuk barat Pantai Losari baru saja melipat rona jingganya pada Jum’at malam (17/7/2026), sebuah perayaan penuh khidmat dan suka cita mengalun dari lantai 19 sebuah restoran eksklusif. Di titik temu antara gemerlap pesisir Makassar dan bentangan langit malam, tergelar sebuah malam tasyakuran yang menandai pencapaian intelektual paripurna.

Acara sarat makna yang diinisiasi langsung oleh Sekretaris Jenderal IKASMIN-SS (Ikatan Keluarga Minangkabau Sapayuang Sulawesi Selatan), Isnaini Al Ihsan, S.H., Dt. Mangkuto Alam, ini didedikasikan untuk merayakan inaugurasi gelar Doktor Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara, Dr. Ferry Tass, S.H., M.Hum., M.Si., Dt. Toembidjo. Malam itu menjadi sebuah simfoni yang meramu kemegahan modernitas, pesona tradisi Nusantara, dan kehangatan silaturahmi lintas batas.

Sebagai inisiator, Dt. Mangkuto Alam turut didaulat untuk menyingkap tirai perhelatan megah ini dengan penuh takzim. Atmosfer persaudaraan kian menebal tatkala Ketua Umum IKM Sapayuang, Ir. H. Akmal Musthafa, melangkah ke mimbar untuk melangitkan untaian sambutan yang merangkul hangat seluruh sanak saudara dan handai tolan.

Gema persaudaraan malam itu turut dihangatkan oleh presensi tamu undangan dari berbagai konstelasi sektoral. Selain kehadiran barisan akademisi terkemuka dari Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin dan kolega sejawat dari korps Adhyaksa, simfoni keakraban kian paripurna dengan hadirnya Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Takalar, Sirajuddin Saraba, S.STP., M.Si., Kepala Puskesmas Patopakkang, Ikhsan Muis Putra, S.K.M serta Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Sulawesi Selatan, Maulana Anshari. Mereka larut bersama Keluarga Besar warga Minangkabau di rantau, menjadi saksi atas sebuah pencapaian yang membanggakan.

Menyambung estafet suka cita, sang empunya hajat, Dr. Ferrytass, Dt. Toembidjo, berdiri menuturkan narasi sanubarinya. Dengan diksi yang merendah dan sarat akan nilai budi pekerti luhur yang mengakar pada kearifan budaya leluhurnya, sang Doktor menyampaikan pesannya:

“Dari palung sanubari yang paling teduh, saya menghaturkan lautan terima kasih atas langkah ringan Bapak dan Ibu sekalian yang sudi meluangkan waktu, menenun kebersamaan di malam yang bersejarah bagi perjalanan akademis saya ini. Namun, layaknya gading yang tak luput dari retak, saya menyadari tak ada perjamuan yang sempurna. Dengan segala kerendahan hati, saya memohon dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya, andai dalam penyambutan maupun jamuan malam ini, terdapat kekhilafan dan kekurangan yang tak sengaja tersuguh.”

Tatkala jarum jam merajut pertengahan acara, semarak malam kian sempurna dengan kedatangan tamu kehormatan, Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Dr. Sila H. Pulungan, S.H., M.Hum. Kehadiran beliau bukan sekadar representasi pimpinan di wilayah hukum Sulawesi Selatan, melainkan wujud pilar persahabatan yang mengakar kuat. Keduanya laksana dua sisi mata uang dalam bingkai almamater, memiliki ikatan histori yang bertaut erat saat sama-sama menimba ilmu magister (S2) di kawah candradimuka Universitas Gadjah Mada.

Dalam sekapur sirihnya, Dr. Sila H. Pulungan melangitkan apresiasi dan untaian tahniah yang setinggi-tingginya. Bagi beliau, raihan gelar akademik paripurna yang direngkuh kawan seperjuangannya itu bukan sekadar rona kebanggaan personal, melainkan sebentuk pilar inspirasi benderang yang turut mengangkat marwah dan jajaran intelektualitas korps Adhyaksa. Sambutan hangat tersebut seketika disambut riuh gemuruh tepuk tangan yang menggema di seisi ruangan.

Usai untaian narasi yang menggugah, malam tasyakuran ini melangkah pada balutan estetika budaya yang pekat. Menepis sekat hierarki dan formalitas modern yang kaku, tradisi Makan Bajamba ritus perjamuan komunal khas Minangkabau didaulat sebagai episentrum selebrasi. Di atas hamparan permadani, para tamu dari berbagai latar belakang, berbaur, dan merengkuh luhurnya persaudaraan dengan menyantap hidangan bersama di tengah embusan angin malam pesisir Makassar.

Setelah menyesap kelezatan penganan dalam ritual Bajamba, rima malam bertransformasi menjadi panggung eforia yang bersahaja. Alunan musik mulai mengudara, mengundang para hadirin untuk melepaskan kepenatan. Harmoni tawa, nyanyian yang berdendang, hingga derap langkah kaki yang berjoget bersama menciptakan pendaran kebahagiaan yang membias di setiap sudut ruangan.


Malam di bibir Pantai Losari itu pada akhirnya bukan sebatas perayaan mahkota akademis tertinggi. Ia menjelma menjadi sebuah manifestasi harmoni murni di mana kearifan lokal Minangkabau, ketajaman intelektualitas hukum, dan romansa persahabatan tanpa sekat melebur sempurna di bawah kanopi angkasa Makassar.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *